Awali 2019, PEPC Gelar Town Hall Meeting

Posted by Admin

Jakarta- Sebagai upaya evaluasi kinerja 2018 dan 2019, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) gelar Town Hall Meeting dan Relay Video Conference pada tanggal 14 Januari 2019 lalu. Acara tersebut dihadiri oleh Komisaris Utama (Komut) PEPC, Gandhi Sriwidodo, Direktur Utama (Dirut) PEPC, Jamsaton Nababan, serta jajaran direksi, manajemen, dan pekerja di lingkungan PEPC. Hadir memberikan sambutan, Jamsaton mengungkapkan bahwa mengawali tahun 2019, PEPC sebagai pemegang 45% Participating Interest dari Lapangan Banyu Urip (LBU) sekaligus Operator Tunggal proyek strategis nasional Jambaran-Tiung Biru (JTB) kembali mengukir milestones. LBU telah melampaui target produksi 2018 dengan rata-rata produksi 208.8 MBOPD dan total produksi 283.97 MMBO hingga kuartal III 2018.

Lebih lanjut Jamsaton menjelaskan, bahwa pertemuan ini dilaksanakan dengan 4 (empat) tujuan, yakni: menyampaikan capaian kinerja 2018, rencana dan target kerja 2019, apresiasi kepada seluruh pekerja yang telah mencapai 3 (tiga) juta jam kerja dan 1 (satu) juta jam kerja khusus untuk proyek GPF di Bojonegoro dengan selamat, ucapan selamat datang bagi pekerja baru dan selamat berpisah bagi pekerja yang purna bakti dan mutasi ke tempat lain. “Capaian PEPC di awal tahun 2019 ini sejalan dengan peningkatan kinerja HSSE (Health-Safety-Security-Environment) dimana PEPC berhasil meraih 3.361.558 Jam Kerja Selamat,” ujar Jamsaton.

Dalam kesempatan tersebut, Jamsaton juga menyampaikan bahwa pada tahun buku 2018, PEPC berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 827,77 juta atau meningkat 125% dibandingkan dengan laba tahun 2017 sebesar US$ 662,2 juta. Hal tersebut menjadi milestone terbesar bagi PEPC sehingga menjadikan PEPC sebagai penyumbang laba terbesar pertama di lingkungan Anak Perusahaan Hulu (APH) Pertamina.

Sedangkan pada aspek HSSE terdapat pencapaian 3 (tiga) juta jam kerja tanpa LTI (Lost Time Injury) dan 1 (satu) juta jam kerja di GPF tanpa LTI. Selain itu “Perusahaan juga dinyatakan sangat sehat karena PEPC memperoleh score AAA, dan ini sudah melampaui target yang telah ditetapkan. Ke depan, saya berharap kita semakin solid untuk satu tujuan agar prestasi ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan di tahun 2019,” imbuhnya. Harapan berikutnya, PEPC masih berpeluang mengelola sub surface (cadangan) yang berada di lapangan Cendana, Alas Tua West, dan Alas Tua East.

Sambutan berikutnya diberikan oleh Komut PEPC, Gandhi Sriwidodo yang juga merangkap sebagai Direktur Logistic Supply Chain & Infrastructure PT Pertamina (Persero), turut memberikan apresiasi terhadap kinerja PEPC yang semakin bertumbuh dari tahun ke tahun. Menurut Gandhi, PT Pertamina (Persero) dan seluruh anak perusahaan rentan terhadap dinamika eksternal, adanya kenaikan dan penurunan harga minyak dunia akan berdampak langsung terhadap perolehan laba perusahaan. “Oleh karena itu, kepada semua leader di PEPC, mulai dari Direksi, VP, dan Manajer, ataupun Supervisor, dan seluruh calon leader untuk bisa mengidentifikasi permasalahan yang ada agar kita bisa tetap eksis,” himbaunya.

Berikutnya, adalah sesi pemaparan evaluasi kerja 2018 dan rencana kerja 2019 dari pihak Manajemen PEPC. Desandri, selaku Direktur Bisnis Support berkesempatan memaparkan pencapaian produksi dan laba tahun 2018 dan target produksi dan laba tahun 2019. Penekanan yang paling penting menurut Desandri mencakup 3 (tiga) hal, yaitu: meningkatkan dan mempertahankan produksi minyak BU, fokus pengembangan proyek JTB yang on time, on spec, on target, sehingga nilai ke ekonomian terjaga, dan penuntasan project financing (mencari pendanaan untuk memudahkan pelaksanaan proyek JTB) yang diharapkan selesai April 2019.

General Manager proyek JTB, Bob Wikan H. Adibrata, memberi paparan singkat yang menjelaskan bahwa proyek JTB memiliki empat pekerjaan utama, yaitu: pengadaan lahan, Early Civil Work, drilling, dan EPC-GPF. Tahun 2019 masih tersisa dua pekerjaan utama, yakni drilling dan melanjutkan EPC-GPF. Untuk drilling, tantangannya adalah, segera menyelesaikan kontrak rig, kontrak-kontrak untuk services, dan segera mengeluarkan purchase order (PO). Untuk EPC-GPF akan terus dilanjutkan dengan tantangan jumlah pekerja yang semakin banyak dan dituntut harus selamat.

Acara terus berlanjut dengan pemaparan program kerja 2019 yang disampaikan oleh masing-masing Manajer fungsi terkait, dimulai dari Manajer Production Engineering, Adi FM Ringoringo; VP Production, Harkomoyo; VP Project Management, Tonni Ramelan; VP Legal & Relations, Whisnu Bahriansyah; dan VP People Human Capital & Services, Ferry Bagdja. Kemudian acara ditutup dengan pesan dan kesan dari pekerja PEPC yang pindah ke Persero atau anak perusahaan lain, atau memasuki purna bakti, dan pengumuman pemenang berbagai penghargaan di lingkungan internal PEPC.