Kajian PEPC Spesial Akhir Tahun, Menjaga Konsistensi Keimanan

Posted by Admin

Jakarta–Menutup tahun 2018, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) bersama Badan Dakwah Islam (BDI) PEPC mengadakan kajian rutin pada Senin (17/12) di Masjid At-Taufieq Patra Jasa, yang dihadiri oleh pekerja PEPC, pekerja yang berkantor di gedung Patra Jasa, dan masyarakat umum sekitar Masjid At-Taufieq. Ustadz penceramah pada kesempatan istimewa ini adalah KH Tengku Zulkarnain yang membawakan tema “Menjaga Konsistensi Keimanan”.

Menurut ustadz Zulkarnain, anugerah dan nikmat dari Allah berdasarkan tingkatan mulai dari yang terendah adalah: harta benda/jabatan, kesehatan, hidup, dan iman. Sayang, orang lebih banyak mengejar dunia siang malam. Padahal dunia rendah dihadapan Allah SWT. Berdasarkan agama Islam, manusia yang paling hina di dunia dan akhirat adalah manusia yang tidak memiliki iman, dan sebaliknya manusia yang beriman adalah manusia yang paling mulia hidupnya di dunia dan akhirat. Orang paling kaya serta mulia adalah orang beriman yang mengerjakan sholat sunnah dua raka’at sebelum sholat Subuh, kemudian orang yang rajin zikir dan melafalkan Subhanallah.

Kelak di akhirat kita akan dibagi ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu: golongan orang kafir, golongan orang taqwa, serta golongan orang yang berada diantara kafir dan taqwa. Allah dan Rasul mengharapkan ummatnya masuk ke dalam golongan orang yang bertaqwa agar bisa langsung masuk surga, karena dua golongan lainnya akan dimasukkan ke dalam neraka dan diperhitungan amalannya.

Usaha menjadi orang bertaqwa seumur hidup bukan hal mudah, namun harus terus menerus diupayakan meski banyak cobaan dan godaan. Kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah, karena Allah menjanjikan dan memberi ganjaran surga bagi orang-orang bertaqwa (beriman). Kita wajib menjaga ketaqwaan dan iman dengan mengukur segala sesuatu berdasarkan ukuran Allah dan Rasulullah. Contohnya, jika kita mau makan, kita harus paham bahwa makanan tersebut halal, cara memperolehnya pun halal, dan jumlah makanan harus sesuai (tidak rakus).

Allah menciptakan dunia ini bagi orang-orang sholeh, maka jika ingin mewarisi dunia, jadilah orang sholeh, sebab ciri orang sholeh adalah mendapatkan dunia dan sekaligus akhirat. Orang sholeh tidak berambisi, namun boleh bercita-cita. Berambisi artinya menggunakan segala cara, sedangkan bercita-cita artinya mencapai sesuatu tanpa melanggar perintah Allah dan RasulNya. Dengan menjaga keimanan dan ketaqwaan kita berdasarkan ukuran Allah dan Rasul, niscaya kita dimasukan ke dalam golongan orang yang masuk surgaNya Allah di yaumil akhir.