Kajian Muslimah BDI PEPC

Posted by Admin

Jakarta- Bertempat di musholla lantai 5 wing 3 gedung Patra Jasa pada Jumat (8/2) berlangsung Kajian Muslimah perdana di tahun 2019 yang merupakan program kegiatan baru dari Badan Dakwah Islam PT Pertamina EP Cepu (BDI PEPC). Kajian dihadiri oleh para pekerja dan pekarya muslimah dari PEPC.

Pemateri kajian adalah ustadzah Dr. Erma Pawitasari, M.Ed. Ustadzah Erma, penulis buku Muslimah Tanpa Stres, pernah bekerja sebagai konsultan dan trainer pendidikan di Surya Institute di bawah bimbingan Prof. Yohanes Surya. Beliau juga menjadi pengasuh beberapa rubrik konsultasi pendidikan, narasumber di media massa nasional, dan saat ini menjabat sebagai Pembina Mafatih Islamic School, Kalibata.

Kajian muslimah perdana ini mengangkat tema “Muslimah itu Mulia”. Isi kajian antara lain bahwa saat ini kita mengenal istilah superwoman yang erat dengan feminisme, dimana perempuan didorong untuk menjadi perempuan super, mandiri, yang bisa melakukan apa saja dengan sendirinya. Istilah atau pemikiran ini bertolak belakang dengan kemuliaan yang Allah SWT anugerahkan kepada perempuan. Kalau kita melihat dari sisi agama, Islam memposisikan perempuan sebagai makhluk yang mulia sejak lahir sampai dengan meninggal dunia. Selama hidupnya, Allah SWT tidak membiarkan perempuan hidup tanpa seorang pelindung, dalam hal ini ayah, suami, saudara laki-laki, dan para wali sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadits. Muslimah dibuatkan sistem oleh Allah SWT sebagai makhluk yang dilindungi, disayangi, dihargai, dan dimuliakan. Tidak ada satu fase dalam hidup seorang muslimah yang dibiarkan Allah SWT tanpa ada yang melindungi, menjaga, dan mengurus.

Jika dilihat kembali ke masa lalu, bahkan hingga hari ini, masih banyak orang tua, dan keluarga yang merasa tidak terlalu bahagia jika mendapat anak perempuan. Banyak diantara mereka yang berpikir bahwa memiliki anak perempuan tidak praktis, repot, dan lain-lain. Padahal banyak sekali ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan bahwa memiliki anak perempuan bisa membawa ke surga, diantaranya adalah:

“Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi SAW berkata, ‘Tidak ada Muslim yang memiliki dua anak perempuan, lalu ia merawatnya dengan baik, kecuali ia akan masuk surga”. (HR Bukhari).

“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, dan ia menjaga mereka dengan baik dan takut kepada Allah tentang urusan mereka, maka tempat mereka adalah surga”. (HR Tirmidzi).

Diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami, bahwa ayahnya datang kepada Nabi SAW dan berkata:.

“’Ya Rasulullah! Aku ingin berjihad dan aku datang untuk meminta nasihatmu; Nabi menjawab, ‘Apakah ibumu masih hidup?’ Jahimah menjawab, ‘Ya’; Nabi berkata, ‘Jika demikian, uruslah ibumu sebab surga ada di bawah kakinya’”. (HR Nasa’i, no. 3104).

Bentuk kemuliaan lain yang Allah SWT anugerahkan kepada perempuan adalah Islam mensyari’atkan pemberian mahar bagi kaum perempuan, sebagaimana disampaikan dalam firman Allah:

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. An Nisaa: 4).

Mahar ini menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk berharga yang tidak bisa diambil seenaknya, kecuali atas persetujuan perempuan itu sendiri. Namun, para muslimah dianjurkan untuk memudahkan mahar agar sunnah Nabi (pernikahan) dapat segera terlaksana, terutama bila calon suaminya kurang mampu/miskin.

Dalam materinya, ustadzah Erma juga sempat menyinggung isu tentang feminisme dan rancangan undang undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) yang saat ini salah disikapi oleh kaum perempuan. Salah satu isu yang dikedepankan adalah betapa berbedanya posisi perempuan dan laki-laki dalam Islam, sebagai contoh isu perceraian dimana Islam hanya memberikan hak talak bagi suami, dan tidak demikian dengan istri.

Dari sisi agama Islam, hak talak memang milik kaum lelaki, namun begitu, bukan berarti perempuan tidak memiliki hak untuk bercerai. Islam mengenal hak khulu’ atau jika diterjemahkan berarti pencabutan atau pelepasan. Namun, hak khulu’ ini bukan berarti bisa dengan mudah diakui begitu saja. Khulu’ atau pelepasan ini harus disertai dengan pengembalian harta atau mahar sebagaimana yang telah diberikan suami kepada istri saat menikah, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut:

“Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah: 229).

Demikianlah Islam memuliakan perempuan, begitu banyak Hadits dan ayat dalam Al-Qur’an yang membahas tentang perempuan, bahkan terdapat satu surat khusus tentang perempuan (An Nisaa).

Mengakhiri kajian muslimah siang itu, pemateri menghimbau dan mengajak para pekerja muslimah PEPC untuk lebih memperdalam ilmu agama sehingga terhindar dari pemikiran yang salah yang berkembang di masyarakat.