Menteri ESDM Lakukan Peletakan Batu Pertama Proyek Jambaran-Tiung Biru (JTB)

Posted by Admin

Bojonegoro - Senin (25/9), Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek Unitisasi Gas Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Acara peletakan batu pertama ini merupakan tahapan dimulainya pekerjaan konstruksi Gas Processing Facilities (GPF) dan dihadiri oleh Kepala SKKMigas, Amien Sunaryadi; Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa; Kepala Perwakilan SKKMigas Jabanusa, Ali Mashyar; Kepala Komisi VII DPR RI, Satya W. Yudha; Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Tanri Abeng; Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), E. Massa Manik; Direktur Hulu Pertamina (Persero), Syamsu Alam; Direktur Gas dan Energi Terbarukan Pertamina (Persero), Yeni Andayani; Dirut PT Pertamina EP Cepu (PEPC), Adriansyah dan jajarannya; Gubernur Jawa Timur yang diwakili Asisten II, Fatah Yasin; Bupati Bojonegoro, Suyoto; Direktur Perusahaan Listrik Negara (PLN) Regional Jawa-Bali, Djoko Raharjo Abu Manan; Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Bojonegoro; Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro; Wakil Bupati Blora, Arif Rohman; sejumlah Camat dan Kepala Desa sekitar JTB; serta tamu undangan lain.

Dalam kesempatan tersebut, Jonan menjelaskan bahwa pengembangan lapangan JTB sebelumnya mengalami beberapa kendala, salah satunya soal harga jual gas dan pengelolaan lapangan. Penyelesaian dari persoalan tersebut diantaranya menghasilkan keputusan, efisiensi capex dari US$ 2,1 miliar menjadi US$ 1,5 miliar. “Kami bisa save banyak, hematnya mencapai US$ 500 juta,” katanya. Efisiensi biaya ini juga membuat harga gas turun menjadi US$ 7,6/MMBTU tanpa eskalasi, yang sebelumnya harga bisa mencapai US$ 8/MMBTU plus 2% eskalasi. Selain itu, alih kelola dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) kepada PEPC, sehingga Pertamina menguasai 90% participating interest (PI) dan 10% sisanya dikuasai oleh pemerintah daerah.

Kepala SKKMigas, Amien Sunaryadi, mengatakan beroperasinya proyek ini bisa menambah penerimaan negara. “Diproyeksikan penerimaan negara dari proyek ini sampai kontrak selesai tahun 2035 mencapai US$ 3,61 miliar atau lebih dari Rp 48 triliun,” ungkapnya. Selain penerimaan negara, proyek ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah maupun nasional. Misalnya, penyerapan tenaga kerja yang mencapai 6000 orang pada masa konstruksi. Seluruh produksi juga akan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri.

Alokasi sebesar 100 MMSCFD diperuntukkan ke Pertamina, yang kemudian dialirkan ke PLN untuk kebutuhan listrik di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sementara sebesar 72 MMSCFD akan memasok kebutuhan industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Harga gas di kepala sumur sebesar US$ 6,7/MMBTU tetap flat selama 30 tahun. Dengan biaya toll fee sebesar US$ 0,9/MMBTU, maka harga di PLN menjadi US$ 7,6/MMBTU. “Ini komitmen industri hulu migas memprioritaskan konsumen dalam negeri,” kata Amien.

Sebagai informasi, pemakai gas terbesar adalah konsumen industri, kemudian kelistrikan. Sejak tahun 2013, alokasi domestik sudah lebih besar dari ekspor. Tahun 2017, kontrak gas domestik mencapai 3,855 MMSCFD, sedangkan ekspor sebesar 2,618 MMSCFD. “Hampir 60% produksi gas bumi digunakan untuk domestik,” jelas Amien, seraya menambahkan beberapa peningkatan pemakaian domestik antara lain dibangunnya fasilitas infrastruktur gas baru dan mulai berproduksinya beberapa lapangan gas baru.

Sementara Dirut PT Pertamina (Persero), E. Massa Manik, menyatakan peletakan batu pertama ini menjadi harapan baru bagi Indonesia, khususnya untuk mengatasi defisit pasokan gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan cadangan gas JTB sebesar 1,9 triliun kaki kubik (TCF), Pertamina berharap industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur akan mendapat suplai gas yang cukup menggerakkan ekonomi nasional.

Produksi gas yang dihasilkan melalui 6 (enam) sumur di lapangan JTB akan diolah melalui GPF. Dari rata-rata produksi sebesar 330 MMSCFD tersebut, GPF memisahkan kandungan CO2 dan H2S, sehingga menghasilkan gas yang dapat dijual sebesar 172 MMSCFD. Massa optimis lapangan JTB akan berproduksi 2021 dan sekaligus mempercepat utilisasi pipa transmisi gas Gresik-Semarang. Saat ini, melalui anak perusahaan, PT Pertagas tengah menyelesaikan pembangunan pipa Gresik-Semarang sepanjang 267 km dengan nilai investasi US$ 515,7 juta.

Dirut PEPC, Adriansyah, menjelaskan bahwa proyek hulu dan hilir ini menjadi salah satu komitmen Pertamina melalui anak perusahaannya, yakni PEPC dan Pertagas untuk menjadi penggerak ekonomi dan monetisasi cadangan gas di Blok Cepu. “Peresmian ini menjadi semangat sekaligus tantangan. Kami berkomitmen mengeksekusi proyek ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka mendukung kebutuhan energi nasional,” ujarnya.

Menurut Ancha, sapaan akrab Adriansyah, PEPC akan menjadi operator tunggal setelah EMCL melepaskan sahamnya di JTB, sehingga Pertamina menguasai 90% PI dan 10% dimiliki Pemda. Proyek JTB menjadi proyek terbesar di Jawa Timur, oleh sebab itu Ancha meminta dukungan pemerintah dan segenap pemangku kepentingan agar proyek ini dapat berjalan lancar.

Bupati Bojonegoro, Suyoto, menyambut baik datangnya proyek lapangan gas JTB ini setelah sebelumnya sempat tertunda, namun dia berharap keberadaan proyek JTB dapat menciptakan harapan kebahagiaan bagi warga Bojonegoro sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga. “Syaratnya JTB dikelola dengan keterbukaan. Secara bisnis, legal, dan sosial kami siap mendukung kelancaran proyek ini,” katanya. Di samping itu, Suyoto juga meminta agar JTB melibatkan tenaga kerja lokal sesuai dengan keahliannya masing-masing. Mengingat warga lokal sekitar JTB telah banyak yang memiliki pengalaman kerja dari proyek Banyu Urip. “Saya berharap kebutuhan pekerjaan baik unskill dan semi skill dapat mengutamakan warga lokal,” kata Suyoto.